Era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014 menjadi momentum penting dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia, khususnya pada sektor transportasi umum.
Berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia (IPI) pada 30 Agustus-6 September 2024 yang melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi dan tambahan 400 responden dari wilayah Jabodetabek, masyarakat Indonesia mengaku sistem transportasi umum saat ini sudah baik.
Berdasarkan hasil survei tersebut, 59,1% masyarakat menilai kondisi transportasi umum di Indonesia dalam keadaan baik dan 5,9% mencatat sangat baik. Kondisi ini menggambarkan keberhasilan dari program-program pemerintah dalam meningkatkan mobilitas masyarakat.
“Penilaian positif terhadap kondisi transportasi umum ini cukup merata di semua kelompok sosio-demografi dan wilayah,” tutur Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, dikutip dari Investor.
Baca Juga: Biaya Transportasi Pengguna Transum Lebih Irit Dibanding Kendaraan Pribadi
Penggunaan Transportasi Umum Masyarakat Indonesia
Berdasarkan survei yang sama, 52% masyarakat Indonesia tercatat telah menggunakan transportasi umum dalam satu dekade terakhir. Ada beragam alasan dibalik penggunaan transportasi umum selama era Jokowi ini.
Keamanan dan keselamatan selama perjalanan menjadi pertimbangan utama responden menggunakan transportasi umum, dengan perolehan 29,7%.
Selain itu, sebanyak 25,5% responden memilih transportasi umum dengan alasan harganya yang terjangkau dan 15,4% lainnya atas faktor kenyamanan.
"Ada tiga hal terpenting yang membuat publik memilih transportasi umum, yakni keamanan dan keselamatan selama perjalanan sebanyak 29,7%, harga yang terjangkau 25,5%, serta kenyamanan kendaraan 15,4%," pungkas Burhanuddin.
Berbagai moda transportasi umum pun muncul sebagai jawaban atas kebutuhan spesifik dari pengguna.
Para pengguna transportasi umum mayoritas memilih menggunakan bus kota. Selanjutnya, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menempati urutan kedua dengan 36,5%.
Selain itu, kapal laut mencatat angka penggunaan sebesar 19,9%, diikuti oleh commuter line yang digunakan oleh 18,8% responden, kereta api dengan 17,9%, dan pesawat terbang 15,4%.
Dalam hal ini, dominasi bus kota sebagai pilihan masyarakat mencerminkan aksesibilitas dan efisiensi pelayanan transportasi di perkotaan.
Namun, meskipun kapal laut, commuter line, kereta api, dan pesawat memiliki persentase penggunaan yang lebih rendah, mereka tetap menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menjelajahi area tertentu dalam jarak jauh.
Dampak Pemakaian Transportasi Umum
Peneliti Kesejahteraan Sosial Desa dan Konektivitas dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herma Juniati, menyatakan bahwa transportasi umum dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengurangi jumlah kendaraan di jalan.
Namun, banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih transportasi pribadi yang dianggap lebih cepat, nyaman, praktis, dan murah.
Hal ini sejalan dengan pendapat pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna, yang mencatat bahwa masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi karena tidak mau menunggu lama, apalagi waktu kedatangan beberapa transportasi umum biasanya tidak pasti.
“Salah satu kekhawatiran penumpang saat mereka harus berpindah moda transportasi adalah mengenai waktu tunggu yang lama dan waktu tiba angkutan yang tidak pasti. Jika pengguna terlalu lama menunggu tibanya angkutan, mereka pasti merasa kehilangan kesempatan berharga,” tutur Yayat pada Minggu (10/3/2024), mengutip Kompas.
Kesadaran masyarakat untuk beralih ke transportasi umum sangat penting dalam membantu mengurangi polusi udara dan kemacetan lalu lintas. Penggunaan transportasi umum juga dapat menghemat biaya transportasi, apalagi dengan meningkatnya harga BBM, biaya tol, dan parkir.
Baca Juga: Jumlah Penumpang Transjakarta di Juni 2024 Capai 31,62 Juta
Penulis: Ucy Sugiarti
Editor: Editor